KELUAR DARI JEBAKAN LINGKARAN KEMISKINAN
(sebuah refleksi ruhani)
oleh
Ahmad Subagyo,SE.MM
"Kemiskinan mengantarkan kepada kekufuran" (Al-Hadits)
Kemiskinan, kata yang sudah sangat akrab dengan kita. Memasuki ruang kemiskinan akan mendewasakan kita untuk memahami arti kehidupan sejati. Manusia pertama juga hadir di dunia ini dengan membawa "kemiskinan", tanpa makanan, tanpa pakaian, dan tanpa perumahan. Kita pun dilahirkan dalam keadaan "miskin" , karena telanjang, tanpa makanan (hanya minuman), dan perumahan. Hakekatnya semua manusia mempunyai sejarah yang sama, yaitu mengawali hidupnya dengan "KEMISKINAN".
Perjalanan hidup manusia melalui berbagai jalan menuju harapan dan impiannya. Harapan manusia terbingkai dalam satu paradigma yaitu bahagia di dunia dan mati masuk surga. Dalam dunia materialis bahagia identik dengan "kaya", kekayaan menjadi antagonis dengan kemiskinan. Kacamata logika pasti membenarkan paradigma manusia, yang lahir dari sebuah kemiskinan akan mendambakan kekayaan. Kekayaan beranonim dengan "keberadaan", ada rumah, ada pakaian, dan ada makanan/minuman, serta ada fasilitas kehidupan lainnya.
Kemiskinan sebagai symbol keterbelakangan, penderitaan, kesengsaraan, kesulitan, dan segala ketiadaan lainnya telah menjadi bagian hidup sebagian besar manusia. Kebutuhan fisiknya yang tiada terbatas telah memiskinkan diri mereka sendiri.
Dalam wacana publik, kemiskinan diukur dengan kemampuan manusia dalam mengumpulkan asset selama setahun (pendapatan perkapita), jika angka pendapatan perkapita seseorang lebih dari rata-ratanya berarti kaya dan sebaliknya berarti miskin. Masyarakat terkadang terjebak dengan angka-angka nisbi kemiskinan, sebab kaya di suatu kota di negeri ini belum tentu kaya di negara lain. Hal ini memicu munculnya pertanyaan, jangan-jangan kita yang mengaku kaya sebenarnya kita ini miskin, sebaliknya mungkin kita merasa miskin walau sejatinya kaya.
Apapun predikat kita, kaya atau miskin sebenarnya tidak berpengaruh terhadap nilai kebahagiaan (khasanah), sebab kebahagiaan letaknya dalam hati bukan pada materi. Sementara sebagian kita ada yang mengatakan bahwa petani yang hidup jauh di pelosok desa, tanpa jalan aspal, tanpa listrik, tanpa parabola, tanpa mobil adalah orang-orang miskin. Namun kenyataannya penyakit stress dan depresi tak pernah menghampiri mereka. Mereka hidup tenang, damai dan... . Bahagia!?!
Lalu, dimana letak kemiskinan ? ...miskin adanya hanya di "kepala" kita. Cara pandang kita pada materi dunia, yang hanya dapat dijangkau sebatas daya indera kita. Kita merasa miskin, karena rumah yang kita diami sekelas RSS sedangkan tetangga kita seperti villa di Sentul, kendaraan sudah kita miliki tapi tetangga kita punya mobil, kita merasa miskin, lalu tetangga punya kulkas …dan seterusnya. Kita merasa minder ketika suatu saat harus bertemu dengan penghuninya, hanya karena rumah kita berbeda besarnya, perasaan-perasaan "miskin" seperti itu bisa terjadi kepada siapa saja, melanda orang kantoran yang merasa miskin karena rendahnya jabatan, bisa juga "miskin" ini menghinggapi para kyai yang belum punya satri ratusan, tak mustahil menimpa juga pada kepala rumah tangga dimana sang Suami yang selalu melihat kekurangan-kekurangan istrinya, lalu dibanding-bandingkannya dengan wanita lain. Bahkan para pejabat pun yang sudah diberi fasilitas rumah dan mobil masih merasa miskin, karena terbukti masih ada yang suka "meminta-minta". MISKIN terjadi... , bisa di Kantor, di pasar, di rumah, di organisasi , dan dimana saja.
Inilah batas kekuatan indera kita dalam menjangkau "KEBESARAN" sang Maha Kaya. Pancaindera (mata, telinga, hidung, mulut dan kulit) kita tidak mampu menembus ke sana, hanya keyakinan "ideology" yang dalam bahasa kegamaan kita "aqidah" sajalah yang bisa menjumpainya. Kita ini "kaya", makna kaya tidak bisa direduksi dengan sekumpulan asset materi yang kita miliki. Hakekat kaya adalah kemerdekaan yang kita miliki, sedangkan miskin adalah terikatnya hati kita pada materi. Wallahu'alam bisawwab-
[kembali ke Artikel]