Artikel

ANTARA LOLOS DAN LULUS UJIAN SERTIFIKASI DIREKTUR BPR

Oleh : Wangsit Supeno, SE

Tahun 2006 merupakan tahun yang bikin ketar-ketir para bankir BPR yang belum mengikuti ujian Sertifikasi Profesi Direktur BPR atau yang sudah mengikuti ujian tetapi masih belum memenuhi ketentuan kelulusan minimal delapan materi dari sepuluh materi kompetensi yang diujikan, dengan nilai rata-rata minimal 6 (enam). Hal ini sesuai dengan PBI No. 6/22/PBI/2004 Tanggal 9 Agustus 2004 Pasal 23, Pasal 63 ayat (4) dan Pasal 64 ayat (1), di mana menurut ketentuan tersebut pada akhir tahun 2006 ini paling sedikit 1 (satu) orang Anggota Direksi wajib memiliki Sertifikasi kelulusan, sedangkan Anggota Direksi yang lainnya wajib memiliki sertifikasi kelulusan paling lambat pada tanggal 31 Desember 2008. Sementara itu untuk calon Direktur harus lulus Sertifikasi sebanyak 14 (empat belas materi uji kompetensi). Dengan lulusnya Direktur BPR dalam ujian Sertifikasi, maka Direktur tersebut sudah memenuhi ketentuan PBI No. 6/22/PBI/2004 Tanggal 9 Agustus 2004 Pasal 21 ayat (1) di mana syarat menjadi Anggota Direksi adalah, kompetensi, integritas dan reputasi keuangan. Dengan lulusnya Direktur BPR dalam ujian Sertifikasi maka dapat dikatakan Direktur tersebut telah memiliki kompetensi dalam mengelola BPR secara profesional sesuai standarisasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang pelaksanaan pelatihan dan ujiannya dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro CERTIF.

Target Utama Sertifikasi

Kelulusan Ujian Sertifikasi nampaknya menjadi target utama para Eksekutif BPR agar selamat dalam upaya mempertahankan ''kursi singgasana Direksi BPR'' sebagai orang nomor wahid di BPR yang sudah lama dipimpinnya. Bagaikan mimpi buruk disiang hari bolong, jika tidak lulus dalam ujian Sertifikasi maka suka atau tidak suka jabatan sebagai Anggota Direksi bisa "melayang" karena dianggap tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sesuai PBI No. 6/22/PBI/2004 Pasal 21 ayat (1) tersebut di atas. Kalau sudah demikian, masalah profesonalisme sebagai sasaran utama diadakannya ujian Sertifikasi nampaknya menjadi nomor sekian. Ada beberapa eksekutif BPR yang ingin serba instant mengambil jalan pintas untuk mencoba mengadu peruntungan dengan mengikuti ujian langsung tanpa terlebih dahulu melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga Certif, yang penting bisa LOLOS dari sarang "maut".

Upaya LOLOS Ujian Sertifikasi

Untuk dapat LOLOS ujian Sertifikasi secara langsung, para eksekutif BPR ini berupaya keras dengan berburu copian materi pelatihan Certif dari rekan sejawat yang sudah mengikuti pelatihan Certif, dan menjadi intel untuk mengetahui informasi bocoran soal-soal yang pernah keluar, dan tak urung melakukan wawancara khusus dengan rekan sejawat yang sudah ikut ujian. Walhasil, dengan mengandalkan pada copian materi, informasi soal, kemampuan autodidak yang dimiliki, plus dengan mengandalkan pengalamannya sebagai praktisi BPR selama ini, plus lagi dengan memanfaatkan ilmu "feeling" yang kebetulan "joss" dalam memilih jawaban yang siapapun bisa memilih karena memang bentuk soal adalah Benar atau Salah, dan Pilihan Ganda, akhirnya sang eksekutif yang mengambil jalur instant tersebut dapat bernafas lega karena berhasil LOLOS dari "sarang" ujian sertifikasi. Namun demikian tidak semua eksekutif BPR yang mengikuti ujian langsung bernasib baik, bisa LOLOS. Bagi peserta ujian langsung yang tidak memiliki kemampuan autodidak dan pengalaman yang maksimal serta "felling" yang jitu, maka kandaslah harapan untuk mempertahankan "kursi singgasana Direksi BPR" karena hanya beberapa materi saja yang bisa LOLOS.

Nah, yang paling celaka nih "hari gini...." masih ada lho eksekutif BPR yang "ogah" dan "alergi" mengikuti ujian, yang "emoh" mengikuti pelatihan, tetapi "pengen" tetap pegang jabatan, wah siap-siap buka lowongan nih tahun 2007. Uniknya lagi terjadi tarik ulur dalam hal Sertifikasi ini, di mana Direktur Utama yang "nggak berani ujian" pada akhirnya memberi penugasan khusus kepada Direktur level 2 (dua) untuk mengikuti Sertifikasi terlebih dahulu. Memang idealnya yang diutamakan lulus ujian Sertifikasi pertama adalah Direktur Utama, tetapi karena satu dan lain hal atau dengan alasan yang dianggap masuk akal adalah masih adanya waktu untuk memenuhi ketentuan dua anggota Direksi harus lulus Sertifikasi sampai dengan akhir Desember 2008, maka untuk memenuhi ketentuan sampai akhir tahun 2006 ini dirasa sudah cukup satu anggota Direksi saja yang lulus ujian Sertifikasi. Hal ini menjadi nilai plus untuk para Direktur level 2 (dua), terlebih lagi sebelum mengikuti ujian Sertifikasi diikutkan pelatihan Certif, sehingga punya bekal yang cukup dalam menghadapi ujian.

Nilai Plus LULUS Uji Kompetensi Sertifikasi

Apabila sang Direktur level 2 (dua) yang mengikuti pelatihan Certif ini berhasil dalam ujian, maka dirinya pantas disebut LULUS UJIAN CERTIF, karena secara kompetensi dia benar-benar lebih kompeten dibanding yang ikut ujian langsung tanpa pelatihan. Jadi patut diacungkan jempol dua kali sebab walaupun posisinya dibawah Dirut, tetapi profesional dan kompetensinya sekarang diatas sang Dirut. Dan harus hati-hati lho.., Direktur seperti ini harus "disayang" tidak hanya oleh Dirut tetapi oleh Pemegang Saham, karena kini dia adalah "pahlawan" buat BPR-nya dan pantas dia mengemudikan BPR karena sudah memiliki "SIM BPR" (Surat Ijin Mengelola BPR) dari lembaga Sertifikasi yang ditunjuk secara resmi oleh Bank Indonesia. Direktur yang lulus uji kompetensi Sertifikasi Direktur BPR atau memiliki SIM pada saat sekarang ini terhitung masih belum maksimal, dan jangan berharap BPR yang sedang memerlukan Direktur profesional dapat dengan mudah membajaknya sebab dia sangat diperlukan oleh BPR-nya, bahkan ada beberapa BPR yang memberikan nilai lebih kepada Direktur yang lulus Certif, misalnya gaji di naikkan dan diberi kesempatan mengikuti pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Pelatihan Certif Sarana Peningkatan Skill Bankir BPR

Angkat topi untuk para Direktur BPR yang mengikuti pelatihan Certif sebelum bertempur di medan ujian. Sebab sesungguhnya tujuan dari pelaksanaan Certif adalah menjadikan para Direktur BPR memiliki keahlian dan kemampuan yang lebih tinggi lagi dari yang sudah ada sehingga siap menghadapi persaingan industri BPR yang semakin hari semakin ketat. Dengan kata lain, adanya pelatihan Certif ini diharapkan akan dapat meningkatkan interpersonal skill Direksi BPR sebagai manajemen puncak dalam melaksanakan fungsi manajemen yang selama ini kita kenal yaitu dengan istilah POAK (Perencanaan, Meng-Organisir, Meng-Arahkan dan Kontrol). Dan yang terpenting lagi adalah bahwa keberhasilan dalam mengelola BPR tidak hanya pada kemampuannya menjalankan fungsi manajemen tersebut. Dalam hal ini seorang Direktur BPR sebagai manajemen puncak dituntut untuk memiliki keterampilan dalam hal Konseptual, Antar Pribadi, Teknis dan Politis. Konsep manajemen modern 41 adalah sebuah konsep manajemen yang menggabungkan fungsi manajemen dengan keterampilan manajemen. Idealnya, BPR akan berkembang secara baik jika Sumber Daya Manusia yang mengelolanya memiliki pemahaman yang lebih dalam untuk mengaplikasikan konsep 41 tersebut, dan juga dapat menjadi pemimpin yang baik. Materi pelatihan Certif yang disajikan diharapkan dapat meningkatkan seluruh keterampilan yang wajib dimiliki seorang bankir BPR.

Perbedaan "Lolos" dan "Lulus" Uji Kompetensi Sertifikasi

Sering muncul pertanyaan, apakah kalau sudah mengikuti pelatihan Certif dijamin dapat Lulus ujian Sertifikasi ? jawaban seharusnya adalah "Ya". Kalau jawabannya "Tidak", mengapa harus ikut pelatihan Certif toh ada yang bisa Lolos Ujian. Perlu diketahui bahwa "Lolos" dan "Lulus" dalam uji kompetensi Sertifikasi profesi Direktur BPR sekilas beda-beda tipis karena tujuannya satu "mendapatkan Sertifikasi ujian". Namun sesungguhnya punya makna yang berbeda. Dalam hal ini istilah "Lolos" bermakna hanya sekedar memenuhi syarat, tetapi istilah "Lulus" lebih universal sebab di samping sasaran utamanya dapat sukses dalam uji kompetensi Sertifikasi, ada value added yang dapat diperoleh yaitu semakin meningkatnya pola pikir dan wawasan para Direktur BPR dalam memanajemen sumber daya yang dimiliki secara lebih luas dan dengan perhitungan yang lebih matang sehingga BPR yang dikelolanya diharapkan akan maju pesat dan sehat. Perlu diketahui bahwa cukup banyak materi yang diberikan Certif yang tidak tersentuh dalam aplikasinya sehari-hari oleh para bankir BPR. Nggak percaya ? coba deh ikut pelatihan, di sana pasti banyak hal baru yang diperoleh. Karenanya pantaslah seorang yang sudah berhasil mengikuti uji kompetensi Sertifikasi melalui pelatihan Certif dinyatakan sebagai Lulus Uji Kompetensi Sertifikasi.

Faktor-faktor Penghambat Kelulusan

Muncul pertanyaan berikutnya, mengapa masih ada yang tidak lulus ujian Sertifikasi, padahal sudah mengikuti pelatihan Certif ? jawabannya, tanyakan pada "rumput yang bergoyang", itu kata mas Ebiet, maksudnya adalah tingkat kelulusan seorang peserta pelatihan Certif dalam pelatihan sangatlah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor usia di mana sebagian besar peserta pelatihan usianya tidak lagi muda dengan beragam fikiran yang harus dibagi-bagi, bahkan ada yang sudah seharusnya pensiun atau seharusnya jadi komisaris atau pemegang saham tetapi karena harus mempertahankan performance BPR-nya maka dia tetap berada di level Direksi. Dalam kondisi seperti ini, mempelajari sepuluh materi Certif bukan hal mudah, sebab kemampuan daya ingat untuk konsentrasi menyerap materi yang dipelajari sudah berkurang. Ada yang bilang, hafal yang baru, maka yang lama lupa. Sampai-sampai ada lelucon yang mengatakan, "kalau pengen cepat masuk, kepalanya mesti dibasahi dulu". Faktor yang kedua adalah kesibukan dalam mengelola BPR yang aktivitasnya cukup padat. Jelas kondisi ini akan mempersempit waktu buat seorang Direktur dalam mempersiapkan ujian secara maksimal. Apabila yang bersangkutan tidak dapat memanajemen waktunya secara baik, maka ia akan terhempas saat ujian. Faktor ketiga, adalah kerja sama tim saat mengikuti pelatihan Certif yang kurang maksimal dalam membuat rangkuman seluruh materi pelatihan. Akibatnya peserta pelatihan belajar melalui materi yang tidak tersusun rapih dan tidak ringkas, sehingga dapat menimbulkan kejenuhan dalam belajar. Dari beberapa pelatihan yang telah dilaksanakan, jika timnya kompak dalam merangkum maka hasilnya akan maksimal. Faktor keempat, adalah gaya belajar peserta yang kurang diperhatikan, di mana setiap individu biasanya punya gaya tersendiri dalam belajar sehingga materi lebih mudah diserap. Misalnya, agar mudah diingat maka ia harus membuat rangkuman sendiri atau membuat istilah-istilah yang lebih memudahkan dalam mengingat suatu materi yang disampaikan oleh fasilitator sesuai diktat materi yang dikeluarkan oleh lembaga Certif. Faktor kelima, adalah ketenangan fikiran ketika akan menghadapi ujian, di mana peserta harus berupaya keras menjaga stabilitas fikirannya untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuat fikiran tegang sehingga dapat menghambat fikiran dalam mengingat materi yang sudah dipelajari. Faktor keenam, adalah kesehatan yang harus selalu dijaga agar kondisi tubuh benar-benar prima. Istirahat yang cukup sebelum ujian ada baiknya perlu dilakukan. Dan faktor terakhir yang perlu diperhatikan adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah yang Maha Kuasa dengan banyak-banyak berdoa agar dibukakan jalan dalam berjuang menuju medan ujian yang penuh rintangan. Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas diharapkan peserta dapat meraih sukses dalam mengikuti uji kompetensi. Sukses kelulusan bukan diukur dari lulus sekaligus atau lulus secara bertahap, karena lembaga Certif memberikan toleransi mengulang ujian dengan syarat minimal kelulusan yang pertama sebanyak 5 (lima) materi, sehingga yang perlu diulang ujiannya adalah 5 materi yang belum lulus. Lulus duluan atau lulus belakangan baik adanya, yang tidak baik adalah pada akhir tahun 2006 belum lulus juga. Jadi kalau demikian janganlah mengulur-ulur waktu ujian. Jika belum lulus segera ujian lagi. Batas akhir ujian adalah sampai dengan November 2006. Dengan demikian, masih ada kesempatan 2 kali ujian lagi yaitu yang pertama pada bulan Agustus nanti dan yang terakhir bulan November 2006. Semangat untuk terus membangun kemampuan (skill) dalam mengelola BPR dan menjadi Direktur yang profesional sehingga seluruh target rencana kerja dapat dicapai secara optimal adalah modal dasar untuk sukses mengikuti ujian kompetensi Sertifikasi, dan itu adalah harapan kita semua. Doa restu keluarga yang ditinggal selama 20 (dua puluh hari) pelatihan Certif adalah supplement yang menambah tenaga dalam meraih sukses yang masih terbuka luas.

Penyelenggaraan Pelatihan Certif DPD DKI Jaya

Penyelenggaraan pelatihan Certif oleh DPD Perbarindo DKI Jaya dan Sekitarnya saat ini sudah pada angkatan ke IX, di mana dalam satu angkatan rata-rata 26 peserta. Dalam setiap pelatihan tidak aneh fasilitator dihadapkan pada wajah-wajah tegang, stress bahkan depressi para peserta pelatihan sehingga selama pelatihan dilaksanakan ada yang sakit dan nampak sekali horor-nya. Menyikapi kondisi ini, fasilitator mempunyai peran penting dalam meramu menu pelatihan agar lebih menarik dan tepat sasaran. Alhamdullilah, pada angkatan pertama telah dihasilkan peserta terbaik, bahkan ada satu angkatan yang tidak lulus uji kompetensi hanya satu peserta. Meskipun masih ada angkatan yang kelulusannya belum maksimal. Semuanya berpulang kepada niat peserta pelatihan yang selalu mencoba berfikir seperti gelas kosong yang siap diisi oleh air bersih sebanyak-banyaknya, sehingga materi yang diberikan akan menambah nilai skill yang telah dimiliki, tetapi tidak berfikir seperti gelas penuh yang menganggap dirinya sudah tahu segalanya sehingga tidak memungkinkan air bersih masuk ke dalam gelas bahkan tertumpah. Hal ini yang menjadikan suasana pelatihan menjadi kurang nyaman, karena pada dasarnya pelatihan adalah sarana untuk saling berdiskusi mencari jalan terbaik dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi ujian, terlebih tempat ujian dilaksanakan di Bank Indonesia kelihatannya semakin horor saja. Kebersamaan yang diciptakan dalam setiap pelaksanaan pelatihan antara fasilitator yang memberikan dorongan dan motivasi serta peserta yang berkemauan kuat untuk menyerap materi lebih maksimal, maka uji kompetensi Sertifikasi menjadi bukan sesuatu yang menyeramkan. Hal ini bisa kita perhatikan pada yel-yel yang diucapkan dengan semangat dalam setiap pelatihan, yaitu Apa kabar ? Luarrr biasa ! BPR...? Yesss ! Sertif.... Josss ! Ujian Sertif.... Siapa takuuuttt !





Penulis adalah Pengurus BPR,
Ketua Komisariat Ciputat, dan
Fasilitator Pelatihan Certif

[kembali ke Artikel]